Tensi Tinggi Semifinal Piala Dunia 2026, Argentina vs Inggris Tanpa Gol di Babak Pertama
- Babak pertama semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris berakhir imbang 0-0 di Atlanta Stadium.
- Pertandingan berjalan dengan tensi sangat tinggi, diwarnai keributan antarpemain dan total 19 pelanggaran dari kedua tim.
- Argentina mendominasi penguasaan bola sebesar 56 persen, namun kedua tim gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.
Laga sengit penuh drama tersaji dalam babak semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina melawan Inggris di Atlanta Stadium pada Rabu waktu setempat. Pertandingan yang mempertemukan sang juara bertahan dengan tim peringkat 10 besar dunia ini berjalan dalam atmosfer yang sangat menegangkan sejak menit awal. Meskipun kedua tim tampil ngotot dan saling jual beli serangan, paruh pertama pertandingan harus berakhir dengan skor kacamata tanpa satu gol pun yang tercipta.
Ketegangan di atas lapangan hijau cepat memanas ketika para pemain dari kedua kesebelasan terlibat adu mulut dan kontak fisik yang agresif. Wasit yang memimpin jalannya laga harus bekerja ekstra keras untuk menenangkan situasi yang beberapa kali hampir berujung pada keributan massal. Ketatnya taktik yang diterapkan oleh kedua pelatih membuat aliran bola lebih sering tertahan di lini tengah dan memicu banyak benturan fisik.
Puncak ketegangan pada babak pertama terjadi pada menit ke-38 ketika pemain Inggris, Anderson, diganjar kartu kuning setelah melakukan pelanggaran keras terhadap megabintang Argentina, Lionel Messi. Insiden ini langsung memicu perselisihan hebat di mana para pemain dari kedua tim berkumpul dan saling dorong di tengah lapangan. Tak lama berselang, tepatnya pada menit ke-42, giliran penyerang Argentina, Lautaro Martinez, yang menerima kartu kuning akibat menarik baju Morgan Rogers dan sempat melakukan protes keras atas keputusan tersebut.
Berdasarkan statistik resmi selama 45 menit pertama, pertandingan ini berjalan sangat kasar dengan total melahirkan 19 pelanggaran. Tim Tango tercatat melakukan pelanggaran lebih banyak dengan total 12 kali, sementara The Three Lions melakukan 7 kali pelanggaran demi menghentikan pergerakan lawan. Ketatnya pertahanan berlapis yang diperagakan oleh kedua tim membuat babak pertama berakhir tanpa ada satu pun tembakan yang mengarah tepat ke gawang.
Dari segi dominasi permainan, Argentina sebenarnya tampil lebih menekan dengan menguasai 56 persen penguasaan bola di sepanjang paruh pertama. Di sisi lain, anak asuh Thomas Tuchel hanya mampu mencatatkan 44 persen penguasaan bola dan lebih banyak mengandalkan serangan balik cepat. Persaingan yang luar biasa ketat di babak pertama ini menjadi sinyal bahwa paruh kedua akan berjalan jauh lebih menarik karena kedua tim sama-sama mengincar tiket menuju babak final.