Masa depan Samir Handanovic bersama Inter Milan resmi berakhir setelah ia menolak tawaran melatih tim akademi dengan syarat yang tidak masuk akal. Menurut sang legenda, manajemen memaksanya memainkan pemain tertentu yang bahkan tidak berlatih bersamanya selama sepekan. Hal ini membuatnya kecewa karena baru mengetahui kebijakan tersebut pada bulan Juni.
// Related stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pengalamannya selama sebelas musim mengawal gawang Inter Milan, kiper asal Slovenia ini menilai fondasi tim dibangun oleh era Luciano Spalletti sebelum akhirnya panen trofi di era berikutnya. Menurut Handanovic, Spalletti berhasil meletakkan dasar mentalitas yang kuat meski skuad saat itu belum memiliki kedalaman materi pemain yang mumpuni.
Perubahan besar terjadi ketika Antonio Conte datang membawa taktik disiplin tingkat tinggi dan standar mentalitas juara. Menurut Handanovic, "Bagi Conte hanya ada sepak bola dan dia menuntut segalanya dari semua orang, bahkan pada tahun pertama sangat sulit merawat gigi karena jadwal latihan baru diketahui mendadak malam sebelumnya." Tekanan ekstrem ini membuat pemain bekerja maksimal, namun durasinya terbatas.
Hubungan intens dengan Conte memiliki batas waktu yang krusial bagi setiap tim sepak bola. Menurut Handanovic, "Metode Conte berjalan baik selama satu atau dua tahun, tetapi setelah itu risikonya semuanya hancur dan dia memilih pergi." Di sisi lain, ia memuji pelatih berikutnya yang dinilai mampu membebaskan kreativitas para pemain bintang di atas lapangan hijau.
Menatap persaingan Serie A musim ini, mantan kapten Nerazzurri tersebut memprediksi dominasi mantan klubnya sulit dihentikan. Berdasarkan pengamatannya, konsistensi performa Inter Milan masih berada di level tertinggi dibandingkan para rival sekota maupun tim papan atas Italia lainnya.