Devins Bookie Devins Bookie
/home / berita / Lebih dari Sekadar Pesepak Bola,...
BERITA

Lebih dari Sekadar Pesepak Bola, Kylian Mbappe Kini Jadi Wajah Prancis

Kylian Mbappe mengenakan ban kapten Prancis saat bertanding di turnamen Piala Dunia

Kylian Mbappe mengenakan ban kapten Prancis saat bertanding di turnamen Piala Dunia

Dengan torehan delapan gol dan kecepatan luar biasa layaknya kereta cepat TGV, Kylian Mbappe kini menjadi pemimpin utama bagi skuad Prancis. Kapten berusia 27 tahun tersebut memikul harapan besar untuk membawa Les Bleus melangkah ke babak final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Namun, bintang Real Madrid ini rupanya enggan jika dirinya hanya dipandang sebatas pesepak bola yang andal di atas lapangan hijau saja.

Berdasarkan pengamatan tim redaksi, Mbappe kini mulai melebarkan sayapnya sebagai aktivis politik, duta merek, model, investor, bahkan hingga menjadi pemilik sebuah klub sepak bola. Penyerang tajam ini tidak lagi ragu untuk bersuara lantang mengenai isu-isu krusial di luar lapangan, menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh bagi generasi muda saat ini.

Aksi nyatanya terlihat saat dirinya memberikan respons keras terhadap seorang senator asal Paraguay, Celeste Amarilla, yang melontarkan komentar rasis setelah Prancis menumbangkan Paraguay di Piala Dunia. Senator tersebut secara keji menyamakan para pemain dengan simpanse dan kelapa, sebuah tindakan yang langsung mendapat kecaman keras dari sang kapten.

"Seorang wanita tercela yang tidak layak memegang jabatannya. Anda tidak mewakili Paraguay, sebuah negara yang telah memancarkan gairah dan kehormatan sepanjang turnamen ini. Saya tidak akan pernah memberikan kebebasan kepada orang-orang seperti Anda untuk menyebarkan kebencian dan rasisme di dunia," tegas Mbappe memberikan pembelaan yang menohok.

Dari pantauan redaksi, cara berkomunikasi Mbappe saat ini memang dinilai telah mendekati sempurna. Menurut jurnalis olahraga asal Prancis, Jean-Baptiste Guegan, sang pemain kini memprofilkan dirinya sebagai seorang pemimpin opini yang mampu memengaruhi perdebatan publik secara luas di negaranya.

Rekan sejawatnya, Cherif Ghemmour, juga menambahkan bahwa kecerdasan Mbappe sudah terlihat sejak usia muda. "Dia berbicara dengan sangat mudah dan lancar dalam bahasa Prancis, Spanyol, dan Inggris. Kemampuan komunikasi tersebut sangat membantunya dalam menjalankan peran aktif yang kini dia ambil di dalam masyarakat Prancis," ujar Ghemmour.

Perubahan peran ini membuat publik Prancis mulai mengubah sudut pandang mereka terhadap sang striker. Meskipun sempat membantu Prancis meraih gelar juara dunia pada tahun 2018 saat masih berusia 19 tahun, Mbappe sempat lama dicap sebagai sosok individualis yang egois dan gila kendali yang enggan membantu pertahanan namun kerap menyalahkan rekan setimnya.

Bahkan, karena sifatnya yang dinilai arogan saat meminta ban kapten dan nomor punggung 10, publik sempat menjulukinya sebagai "Dikator Mobutu"—merujuk pada mantan presiden Zaire yang korup. Citranya kian terpojok saat memutuskan hengkang secara gratis dari Paris Saint-Germain pada 2024 dan menuntut ganti rugi sebesar 263 juta euro, padahal ia didatangkan dengan nilai 180 million euro.

Namun, menurut Guegan, segala kritik tajam tersebut kini telah sepenuhnya mereda seiring performa apiknya di Piala Dunia. "Kita sekarang menyaksikan transformasi dari seorang juara yang menyadari bahwa untuk memenangkan Ballon d Or dan sukses di Real Madrid, dia harus berkembang menjadi pemimpin yang lebih menentukan di dalam tim. Kami melihat bentuk kepemimpinan baru, baik di dalam maupun di luar lapangan," ungkap penulis buku Revolution Mbappe tersebut.

Kini, Mbappe dinilai telah menjadi orang Prancis pertama yang benar-benar melampaui batas olahraganya dan menjelma sebagai merek global dengan citra yang tertata rapi. Di luar sepak bola, ia mengelola hak citra dirinya sendiri, memiliki perusahaan produksi hiburan, yayasan anak-anak, hingga menjadi pemilik klub SM Caen melalui dana investasinya, sekaligus menjalin kemitraan eksklusif dengan jenama besar seperti Nike, Dior, EA Sports, dan Hublot.

Jurnalis Olahraga Senior - Sepak Bola & Analisis Taktik

Ajiman Prasetyo adalah jurnalis olahraga ternama dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia sepak bola. Mantan koresponden di Jakarta, London, dan Madrid, ia telah meliput berbagai ajang olahraga terbesar: Piala Dunia, Piala Eropa, Liga Champions, dan liga-liga nasional. Analisis taktik dan laporan lapangannya dihargai karena kedalaman dan ketepatannya. Bergairah tentang sepak bola Eropa dan Amerika Selatan, ia menghadirkan pandangan unik dan mendalam tentang berita olahraga.