Kisah Ivan Gazidis Rintis MLS, Awalnya Diremehkan hingga Dianggap Liga Mitos
- Mantan petinggi Arsenal dan AC Milan, Ivan Gazidis, menceritakan masa-masa sulitnya saat menjadi salah satu pionir berdirinya Major League Soccer (MLS) di Amerika Serikat.
- Sebelum resmi bergulir pada 1996, proyek MLS sempat diremehkan oleh media lokal Amerika Serikat dan dipelesetkan sebagai "Mythical League Soccer" karena dianggap mustahil terwujud.
- Keputusan FIFA menunjuk Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994 menjadi katalis utama yang mewajibkan negara tersebut membangun liga profesional.
Sebelum dikenal luas sebagai petinggi klub raksasa Eropa seperti Arsenal dan AC Milan, Ivan Gazidis memulai karier manajerialnya di tempat yang tidak terduga. Pada April 1994, pria asal Inggris berdarah Yunani ini resmi menjadi karyawan kedua dalam sejarah Major League Soccer (MLS). Saat itu, MLS hanyalah sebuah proyek eksperimental yang lahir dari mandat FIFA demi menyukseskan gelaran Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.
"Bagaimana saya bisa menjadi karyawan kedua di MLS pada usia 29 tahun? Saat itu, kami hanya berjarak beberapa bulan dari sepak mula Piala Dunia. Ketika FIFA memberikan hak tuan rumah kepada Amerika Serikat pada tahun 1988, ada syarat mutlak bahwa liga profesional harus segera dibentuk," ungkap Gazidis saat ditemui di stadion milik AS Saint-Etienne, klub Prancis yang kini dipimpinnya.
Perjuangan awal merintis liga ini diakui Gazidis sangat berat dan jauh dari kata mewah. Bersama Mark Abbott yang merupakan karyawan pertama MLS, Gazidis bahkan tidak memiliki ruang kerja formal dan terpaksa bekerja di tempat seadanya. "Kami tidak punya kantor, hanya sebuah meja kecil di koridor gedung komite penyelenggara Piala Dunia. Orang-orang lewat begitu saja di depan kami tanpa peduli," kenang Gazidis mengenai awal mula berdirinya liga tersebut.
Tantangan terbesar yang dihadapi kala itu adalah skeptisisme yang luar biasa dari publik dan media olahraga di Amerika Serikat sendiri. Sejarah kelam kegagalan liga terdahulu, North American Soccer League (NASL), membuat banyak pihak yakin bahwa sepak bola pria tidak akan pernah laku di negara tersebut. "Seorang jurnalis dari Los Angeles Times bahkan dengan nada mengejek menyebut kami sebagai Mythical League Soccer karena menganggap liga ini hanyalah mitos. Tidak ada satu pun orang yang percaya pada kami saat itu," tambahnya.
Meski diragukan, MLS akhirnya resmi bergulir pada April 1996 dengan sepuluh waralaba perdana yang langsung menarik animo besar, salah satunya saat 70.000 penonton memadati Stadion Rose Bowl di Pasadena. Pertumbuhan pesat ini kemudian mendorong perbaikan infrastruktur besar-besaran sejak tahun 2001, di mana para pemilik klub mulai berani berinvestasi membangun stadion khusus sepak bola demi menjaga keaslian olahraga tersebut dari sekadar komoditas pemasaran.