Girondins de Bordeaux Degradasi ke Kasta Keenam, Suporter Marah dan Sebut Klub Telah Dibunuh
- Klub legendaris Prancis, Girondins de Bordeaux, dipastikan terdegradasi ke divisi Regional 1 atau kasta keenam akibat krisis keuangan yang parah.
- Para suporter dan mantan pihak internal mengecam keras sang pemilik, Gerard Lopez, yang dinilai menjadi aktor utama hancurnya klub peraih 6 gelar Liga Prancis tersebut.
- Meski menghadapi ancaman likuidasi yudisial, para pendukung setia Bordeaux menegaskan komitmen mereka untuk tetap mengawal klub dari level amatir.
Nasib tragis menimpa salah satu raksasa sepak bola Prancis, Girondins de Bordeaux. Setelah terlempar ke National 2, klub legendaris ini kini dipastikan terjun bebas ke kasta keenam atau Regional 1 (D6) akibat jeratan krisis finansial yang tak kunjung usai. Keputusan berat ini bahkan memicu pembatalan sesi latihan sore tim setelah para pemain merasa terpukul dengan kepastian sanksi tersebut.
Situasi ruang ganti Bordeaux dilaporkan dipenuhi rasa kecewa dan sedih yang mendalam setelah proses pengambilalihan oleh investor Sparta gagal total. Kekecewaan ini kian memuncak karena tim sebenarnya sempat membangun solidaritas yang kuat di level amatir. "Kami sangat terpukul, bahkan merasa jijik dengan situasi ini. Sungguh sebuah kesia-siaan karena kami sudah berhasil membentuk skuad yang solid dengan atmosfer luar biasa," ungkap salah satu pemain Bordeaux yang enggan disebutkan namanya.
Kemerosotan dramatis klub yang pernah menembus final kompetisi Eropa pada 1996 ini memicu gelombang kemarahan besar di kalangan suporter kota Bordeaux. Banyak pihak menilai klub peraih enam gelar juara Liga Prancis ini tidak mati secara alami, melainkan sengaja "dibunuh" oleh buruknya manajemen finansial di bawah kepemilikan Gerard Lopez. Kritik tajam pun datang dari berbagai penjuru, termasuk dari mantan kandidat pembeli klub, Bruno Fievet, serta legenda klub Christophe Dugarry.
"Saya tidak habis pikir mengapa kepemimpinan klub sebesar Bordeaux, yang memiliki sejarah luar biasa, bisa diserahkan kepada seseorang seperti Gerard Lopez yang selalu menghancurkan setiap klub yang disentuhnya," cetus Benoit, seorang suporter setianya yang juga mengelola bar terkenal di Bordeaux, BodeGon. Nada frustrasi serupa juga disuarakan oleh Nasser, pendukung senior yang mengenang masa kejayaan klub saat diperkuat bintang dunia. "Di sini, kami pernah memiliki Zinedine Zidane hingga Jean-Pierre Papin, nama-nama besar di sepak bola. Saya tidak mengerti bagaimana kami bisa jatuh sampai ke titik ini," tuturnya dengan wajah lesu.
Meskipun bayang-bayang kebangkrutan total dan prosedur likuidasi yudisial kini berada di depan mata, para pendukung garis keras Bordeaux menolak untuk menyerah begitu saja. Kelompok suporter Ultramarines memilih untuk menahan diri dari pernyataan resmi demi menyusun langkah taktis ke depan. Suporter muda seperti Hugo meyakini bahwa loyalitas basis massa Bordeaux tidak akan pernah padam walau harus merangkak dari kompetisi regional terkecil sekalipun. "Kami membuktikan bahwa di National 2 saja basis ultras kami tetap sangat besar. Kami akan selalu setia karena ini adalah klub yang tidak akan pernah mati," pungkasnya optimistis.