Dunia balap motor sering kali melahirkan kisah yang melampaui batas lintasan. Buku terbaru berjudul "Bruno Giacomelli - Continuavano a chiamarmi Jack O’Malley" bukan sekadar catatan statistik, melainkan sebuah roman hidup yang menangkap esensi balapan di era 70-an dan 80-an yang epik sekaligus berbahaya.
// Related stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Buku ini membawa pembaca kembali ke momen mendebarkan di Watkins Glen. Bruno Giacomelli memimpin Grand Prix Amerika Serikat setelah meraih pole position yang spektakuler. Ia mengungguli Nelson Piquet dengan selisih waktu hampir satu detik, sebuah pencapaian yang mendefinisikan kecepatan murninya.
Menurut narasi dalam buku tersebut, perjalanan Giacomelli dimulai dari sebuah peternakan di Brescia, Italia. Dengan modal nekat dan determinasi tinggi, ia pindah ke Inggris meski tidak fasih berbahasa Inggris. Keputusan ini terbukti tepat saat ia memenangkan gelar Formula 3 Inggris dan menaklukkan Monte Carlo.
Giacomelli menjadi ikon kebangkitan Alfa Romeo di Formula 1 di bawah arahan Carlo Chiti. Ia dikenang karena berbagai aksi heroik di lintasan, termasuk pertarungan sengit di Las Vegas yang membuatnya berhasil mengungguli legenda seperti Alain Prost.
Salah satu bab paling menarik dalam karier Giacomelli adalah keberaniannya menolak tawaran langsung dari Enzo Ferrari setelah kemenangannya di Monte Carlo pada tahun 1976. "Hidup adalah serangkaian pilihan berani yang membuat saya tetap menjadi diri sendiri," ujar Giacomelli dalam refleksi hidupnya.
Selain aksi di sirkuit, buku ini juga mengulas kehidupan sosialnya yang berwarna. Ia menjalin persahabatan dengan pesohor dunia mulai dari musisi seperti Elton John dan Nick Mason dari Pink Floyd, hingga aktor legendaris Paul Newman dan rekan seangkatannya seperti Gilles Villeneuve.