Mario Aji dan Honda Team Asia Cari Solusi Akhiri Tren Gagal Finis di Moto2
- Pembalap Indonesia Mario Aji menunjukkan kecepatan kompetitif tetapi kerap terkendala tren gagal finis pada Moto2 musim ini.
- Dari enam balapan yang dilakoni musim ini, Mario Aji baru mencatatkan dua kali finis akibat insiden jatuh dan cedera.
- Manajer Honda Team Asia Hiroshi Aoyama optimistis dengan talenta Mario dan berfokus meningkatkan manajemen balapan pada paruh kedua musim.
Pembalap Indonesia yang memperkuat Honda Team Asia, Mario Suryo Aji, menatap paruh kedua musim Moto2 2026 dengan harapan besar untuk tampil lebih solid. Meski memiliki kecepatan lap yang cukup bersaing sejak awal musim, pembalap muda berbakat ini kerap menghadapi kendala besar saat balapan utama berlangsung di hari Minggu.
Dari enam rangkaian balapan yang diikutinya musim ini, Mario Aji tercatat baru dua kali berhasil menyentuh garis finis. Pencapaian terbaiknya terjadi saat menyelesaikan balapan di posisi ke-13 pada GP Brasil, serta meraih posisi ke-21 di GP Prancis saat bertanding dalam kondisi menahan rasa sakit akibat cedera.
Nasib kurang beruntung sempat memaksa pembalap berjuluk Super Mario itu absen dalam lima seri beruntun untuk menjalani operasi cedera pangkal tulang leher. Saat melakukan aksi comeback di GP Jerman, Mario sebenarnya langsung membuktikan kapasitasnya dengan menembus sesi kualifikasi kedua (Q2), menunjukkan potensi kecepatan yang nyata di atas lintasan.
Sayangnya, nasib apes kembali menghampiri ketika Mario terjatuh dari motornya saat balapan utama. Meskipun sempat memaksakan diri kembali ke lintasan usai perbaikan teknis di paddock, pembalap asal Magetan tersebut tetap dinyatakan tidak finis karena gagal memenuhi jumlah putaran minimum yang dipersyaratkan.
Manajer Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, menegaskan bahwa kecepatan dan potensi Mario sudah tidak perlu diragukan lagi. "Mengatur balapan adalah sesuatu yang akan terus dia pelajari. Kami tahu dia punya kecepatan dan talenta untuk mencapai hasil kuat," ujar Aoyama, menekankan fokus tim dalam membenahi manajemen risiko, daya tahan ban, dan pengambilan keputusan di lintasan.