Mayoritas suporter Inggris merasa telah memahami seluk-beluk Bundesliga dengan sangat baik. Anggapan bahwa Bayern Munich selalu menjuarai liga, pertahanan klub yang rapuh, hingga atmosfer stadion yang berkelas menjadi kesimpulan umum yang sering terdengar. Namun, realitas sepak bola di Jerman sebenarnya jauh lebih menarik daripada sekadar kesimpulan malas tersebut, dan kekeliruan dalam menilai kompetisi ini bisa berdampak nyata jika Anda menggunakannya sebagai acuan taruhan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, dominasi Bayern Munich selama lebih dari satu dekade memang tidak bisa dibantah. Namun, meremehkan sisa klub lain di liga adalah sebuah kekeliruan besar. Buktinya, Bayer Leverkusen berhasil mencatatkan rekor tak terkalahkan sepanjang musim Bundesliga 2023/24 dengan torehan 28 kemenangan dan 6 hasil imbang. Pada musim yang sama, Dortmund sukses menembus babak final Liga Champions, sementara Stuttgart secara mengejutkan mampu finis di peringkat kedua.
Masalah utamanya adalah sebagian besar media Inggris hanya mengangkat pemberitaan ketika Bayern Munich terlibat di dalamnya, sehingga asumsi tersebut terus mengakar. Padahal, jika memantau liga ini dari pekan ke pekan, dari pantauan redaksi terlihat jelas bahwa persaingan papan tengah dan perebutan zona degradasi di Bundesliga jauh lebih sengit dan ketat dibandingkan dengan beberapa musim di Premier League.
Miskonsepsi lain berkaitan dengan aturan kepemilikan 50+1. Suporter Inggris mungkin pernah mendengarnya, tetapi sedikit yang memahami dampaknya di lapangan. Aturan ini memastikan bahwa anggota klub atau suporter memegang mayoritas hak suara, sehingga mencegah investor asing mengambil kendali penuh. Dampaknya terhadap budaya pertandingan sangat masif, di mana harga tiket tetap murah, tribun berdiri selalu penuh, dan daftar tunggu tiket terusan di klub seperti Dortmund serta Union Berlin bisa mencapai ribuan orang.
Selain itu, ada asumsi keliru di Inggris bahwa klub-klub promosi di Jerman hanyalah tim pelengkap yang mudah dikalahkan. Di Premier League, hal itu mungkin sering terjadi, namun klub promosi Bundesliga cenderung lebih siap dan kompetitif pada musim pertama mereka kembali ke kasta tertinggi. Menurut data kompetisi, jarak kemampuan antara tim promosi dan tim menetap di Jerman tidak pernah sejauh yang diperkirakan para pengamat Inggris.
Sektor kasta kedua atau 2. Bundesliga juga layak mendapatkan perhatian lebih. Ketika suporter Inggris membanggakan Championship, mereka tidak menyadari bahwa kompetisi kasta kedua Jerman menawarkan drama yang tidak kalah seru. Schalke 04 misalnya, sempat menghabiskan tiga musim di 2. Bundesliga sebelum akhirnya finis di peringkat pertama pada Mei lalu untuk kembali naik kasta. Hebatnya, Veltins-Arena yang berkapasitas 62.000 penonton tetap padat merayap meski mereka bermain di kasta kedua.
Klub besar lain seperti HSV akhirnya berhasil kembali ke kasta utama pada tahun 2025 setelah tujuh tahun tertahan di bawah, sementara Köln langsung menyusul sebagai juara 2. Bundesliga pada musim yang sama. Hertha Berlin dan beberapa raksasa lain juga sempat mencicipi kerasnya kompetisi ini. Bagi sebagian besar suporter Jerman, pertandingan di kasta kedua justru terasa lebih terbuka, penuh pertaruhan, dan menyajikan loyalitas yang luar biasa.
Faktor pembeda lainnya adalah libur musim dingin yang diterapkan Bundesliga dari akhir Desember hingga pertengahan Januari. Berbeda dengan Inggris yang tetap bermain, jeda ini membuat tim-tim Jerman kembali bertanding dengan kondisi fisik yang lebih bugar dan segar. Para pelatih memanfaatkan waktu ini untuk membenahi taktik dan formasi, sehingga peta kekuatan tim di paruh kedua musim sering kali berubah drastis dibandingkan sebelum natal.