Pertandingan antara Belgia melawan Spanyol selalu memunculkan memori mendalam bagi para pencinta sepak bola. Dari pantauan redaksi, laga perempat final yang akan digelar hari Jumat ini membawa ingatan publik sepak bola Belgia kembali ke masa kejayaan Leo Van Der Elst pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, sekaligus menjadi babak baru bagi generasi emas Rode Duivels.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Leo Van Der Elst, pahlawan kemenangan Belgia pada tahun 1986 lewat adu penalti, situasi saat ini memiliki kemiripan yang sangat tinggi dengan momen legendaris tersebut. "Ini mulai terlihat sangat mirip dengan Meksiko 1986. Ada banyak sekali kesamaan. Kami memiliki grup WhatsApp bernama De Bende van 86, dan selama Piala Dunia ini kami saling mengirim pesan agar tidak ada yang panik karena kami juga tidak memulai fase grup dengan luar biasa," ungkapnya.
Berdasarkan catatan sejarah, Spanyol memang lebih sering diunggulkan, sama seperti ketika mereka diperkuat Emilio Butragueño dan Andoni Zubizarreta pada tahun 1986. Namun, dari pengamatan tim redaksi, Belgia yang berstatus sebagai underdog justru kerap tampil tanpa beban dan mampu menciptakan kejutan besar di turnamen mayor.
Meskipun memiliki kenangan indah di masa lalu, catatan pertemuan terkini kurang berpihak pada Belgia, termasuk kekalahan kekalahan 0-2 dalam laga debut Roberto Martínez pada 2016 lalu. Menariknya, sisa-sisa kekuatan lama Belgia seperti Thibaut Courtois, Thomas Meunier, Axel Witsel, Kevin De Bruyne, dan Romelu Lukaku masih bertahan di skuad hingga saat ini.
Pertemuan epik hari Jumat ini diprediksi akan berjalan sengit. Bagi Belgia, laga ini adalah kesempatan emas untuk melakukan aksi balas dendam atas kekalahan-kekalahan di masa lalu sekaligus mengulang keajaiban cerita dongeng tahun 1986 di panggung dunia.