Peta persaingan gelar juara Tour de France langsung memanas setelah Tadej Pogacar memberikan pukulan telak kepada para rivalnya dalam etappe pegunungan pertama yang sesungguhnya. Berdasarkan jalannya balapan di tanjakan legendaris Tourmalet, pebalap asal Slovenia tersebut meluncurkan serangan yang terencana matang hingga membuat kompetitornya keteteran. Di saat tim Visma-Lease a Bike masih memelihara secercah harapan, atmosfer pesimisme justru mulai menjangkiti para pesaing lain yang merasa balapan kali ini sudah menemui titik akhir.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Rival utama Pogacar, Jonas Vingegaard, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah kehilangan banyak waktu berharga di etappe keenam ini. "Ini adalah hari yang sangat berat, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya," ujar Jonas Vingegaard pascabalapan. Menurut penuturannya, tim lawan memang sudah merencanakan serangan besar di Tourmalet dan dirinya gagal mengimbangi kecepatan tersebut hingga terpaksa memacu sepeda dengan ritme kendalinya sendiri.
Dari pantauan redaksi, petaka bagi Jonas Vingegaard kian menjadi-jadi saat memasuki jalur turunan dan area lembah menuju garis finis. Jaraknya dengan Tadej Pogacar terus melebar dari detik menjadi menit. Kendati tertinggal cukup jauh, pebalap asal Denmark itu menolak untuk menyerah pasrah. "Saya kecewa, tapi beginilah hidup. Saya masih percaya pada diri sendiri dan kondisi kaki saya kian membaik. Pertarungan belum sepenuhnya berakhir," tegasnya.
Kekecewaan serupa juga diutarakan oleh Marc Reef selaku Head of Racing dari Visma-Lease a Bike yang mengaku terkejut dengan selisih waktu yang tercipta. Pihaknya memang memprediksi akan ada jarak angka, tetapi kehilangan 2 menit 40 detik dalam satu etappe dianggap terlalu masif. Walau demikian, Reef tetap memberikan apresiasi atas keputusan taktis Jonas Vingegaard yang memilih bertahan dengan ritme sepedanya sendiri demi menghindari risiko yang lebih fatal.
Berbanding terbalik dengan kubu rival, suasana selebrasi justru membumbung tinggi di markas UAE Team Emirates. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, Tadej Pogacar tampil dengan kepercayaan diri penuh sejak sebelum balapan dimulai. "Kami sudah mendiskusikan etappe ini di dalam bus kemarin. Saya bahkan sudah bangun sejak jam tujuh pagi karena sangat bersemangat. Kami membalap seolah tidak beban yang harus dipertaruhkan," ungkap Pogacar dengan nada riang.
Kesuksesan UAE Team Emirates kian lengkap setelah pebalap pendukung mereka, Isaac del Toro, berhasil merebut kembali jersey putih. Menurut Isaac del Toro, kemenangan yang diraih kapten timnya membuat misi utama mereka sukses besar. Dirinya merasa sangat luar biasa bisa memberikan kontribusi maksimal untuk menyokong performa impresif Tadej Pogacar di lintasan berat tersebut.
Di sisi lain, mayoritas pebalap di dalam peloton kini mulai realistis menghadapi kenyataan bahwa podium tertinggi mungkin sudah terkunci. Rekan setim Paul Seixas, Tiesj Benoot, secara terbuka mengakui keunggulan telak sang rival. "Saya khawatir Tour de France untuk posisi pertama sudah selesai. Hari ini murni pembuktian satu lawan satu, dan jika seseorang bisa mengambil jarak lebih dari dua menit, apa lagi yang bisa saya katakan?" pungkasnya bernada lesu.