Devins Bookie Devins Bookie
/home / ligue 1 / Tren Gagal Penalti ala Mbappe di...
LIGUE 1

Tren Gagal Penalti ala Mbappe di Piala Dunia 2026: Strategi Jitu atau Blunder?

Kylian Mbappe bersiap melakukan tendangan penalti dengan teknik berhenti sejenak di Piala Dunia 2026

Kylian Mbappe bersiap melakukan tendangan penalti dengan teknik berhenti sejenak di Piala Dunia 2026

Jika ada mikrofon yang dipasang di setiap rumah di Prancis pada Kamis malam lalu, kemungkinan besar pada pukul 21.28 waktu setempat, kalimat yang paling sering terdengar adalah "apa-apaan gaya ancang-ancang seperti itu?". Berdasarkan pengamatan dari tim redaksi, Kylian Mbappe baru saja gagal mengeksekusi penalti di hadapan kiper Maroko, Yassine Bounou, setelah melakukan ancang-ancang tidak menentu yang ditandai dengan berhenti mendadak di tengah jalan. Taktik itu dilakukan untuk mengecoh sang penjaga gawang dengan menatap matanya tanpa pernah melihat ke arah bola. Terkait hal ini, kapten tim nasional Prancis tersebut sebenarnya tidak menciptakan tren baru, bahkan lima hari sebelumnya melawan Paraguay (1-0 di babak 16 besar), ia berhasil memenangkan timnya dengan gerakan serupa.

Mbappe tentu bukan satu-satunya pemain yang gagal. Berdasarkan pantauan redaksi di turnamen Piala Dunia 2026 ini, nama-nama besar seperti Bruno Guimaraes, Lionel Messi, hingga Kai Havertz juga mengalami nasib sial yang sama saat menggunakan teknik yang kian marak ini. Dari total 60 penalti yang dieksekusi hingga laga Prancis vs Maroko, termasuk babak adu penalti, sebanyak 19 tendangan atau hampir sepertiganya (32%) dilepaskan setelah penendang melakukan jeda atau memperlambat lari mereka. Hasilnya sangat minim, tingkat keberhasilannya hanya menyentuh angka 53%. Padahal, dalam situasi normal, peluang mencetak gol dari titik putih diperkirakan mencapai 79% menurut model Expected Goals.

Sampel statistik ini memang masih terbatas dan harus dilihat dalam perspektif tingkat keberhasilan penalti di sepanjang turnamen yang juga tidak biasa karena cukup rendah (65%). Namun, jika kita memisahkan 41 penalti yang ditendang dengan cara lebih "konvensional", hasilnya terbukti jauh lebih efektif dengan tingkat kesuksesan 70%. Kegagalan dari teknik ancang-ancang yang terputus-putus ini terbilang mengejutkan. Sebab, pada dua kompetisi internasional besar terakhir, catatan menunjukkan tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi, yaitu 77% pada Piala Dunia 2022 dan bahkan mencapai 88% pada Euro 2024. Apa yang menyebabkan penurunan produktivitas yang drastis ini?

"Pertama, semua orang sekarang mulai melatih antisipasi penalti, ini bukan lagi sekadar perjudian," ujar Christophe Lollichon, pelatih kiper Dunkerque (Ligue 2) yang pernah berkarier di Chelsea. Menurut Christophe Lollichon, para penjaga gawang saat ini melakukan analisis video yang mendalam. "Analisis penalti dimulai sejak penendang meletakkan bola. Ancang-ancang seperti itu sebenarnya tidak terlalu sulit untuk digagalkan. Umumnya, penendang melakukan itu agar kiper bergerak ke satu sisi lalu menembak ke sisi lain, tetapi kita bisa mengatasinya dengan memberikan informasi palsu. Saya sudah bertahun-tahun melatih kiper untuk membalikkan peran, yaitu mengecoh mereka yang ingin mengecoh kita," tambahnya.

Di sisi lain, kiper juga bisa memilih untuk tetap diam tidak bergerak. Melalui rekaman gambar dari penalti Kai Havertz yang gagal saat adu penalti di babak 16 besar melawan Paraguay (1-1 perpanjangan waktu, 3-4 adu penalti), terlihat bahwa kiper Orlando Gill sama sekali tidak bergerak sedikit pun sejak Jerman melakukan ancang-ancang hingga saat ia berhenti sejenak. Orlando Gill baru melompat pada detik terakhir setelah bola ditendang. Kiper Paraguay itu jelas telah mempelajari taktik lawan, mengingat Kai Havertz sudah terbiasa dengan teknik yang disebut "stop-start" ini di Inggris dan sebelumnya baru mencatatkan satu kegagalan.

"Semua ini adalah masalah tempo," aku Christophe Lollichon. Menurutnya, jika kiper ingin melakukan gerakan tipuan, mereka harus melakukannya di momen yang tepat dan tidak boleh terlalu cepat agar tetap bisa bereaksi. Jeda dalam ancang-ancang ini pada dasarnya memiliki risiko besar bagi penendang. Dengan pengambilan keputusan di detik terakhir, pengamatan di Piala Dunia ini menunjukkan bahwa eksekusi mereka secara mekanis menjadi kurang akurat dan arah bola kurang bervariasi dibandingkan dengan ancang-ancang tradisional. Akibat hilangnya kekuatan akibat berhenti lalu berakselerasi lagi, mengecoh kiper ke arah yang salah menjadi satu-satunya pilihan rasional agar berbuah gol.

"Memang tidak mudah jika kiper bergerak ke arah yang benar, tetapi kita masih bisa mengatasinya," kilah Jessy Benet, pemain yang menjadi spesialis teknik ini dan sukses mencetak 20 gol dari 22 penalti bersama Grenoble. Menurut Jessy Benet, penjaga gawang sering kali memiliki fisik yang tangguh, namun dengan melompat lebih lambat, jangkauan terbang mereka biasanya menjadi lebih pendek. "Jika saya merasa mereka membaca arah dengan baik, selalu ada opsi untuk mengangkat bola atau menempatkannya lebih dekat ke tiang gawang," ujarnya.

Semua proses tersebut membutuhkan penguasaan detail yang sangat matang. "Teknik ini saya temukan setelah gagal dalam penalti pertama saya di kompetisi National pada musim 2017-2018," kenang Jessy Benet sambil tersenyum. Ia kemudian berlatih dan mengembangkan tekniknya sendiri, yaitu tiga langkah kecil dan pelambatan sebelum menendang bola, di mana sisanya adalah soal intuisi. "Banyak pemain mencoba meniru Neymar atau lompatan kecil Bruno Fernandes, padahal lebih mudah melakukan sesuatu yang benar-benar kita kuasai daripada memaksakan inovasi," tegasnya.

Kasus Manuel Akanji menjadi contoh nyata yang sangat menarik. Ditunjuk sebagai eksekutor dalam tiga babak adu penalti terakhir tim nasional Swiss, bek berusia 30 ans tersebut selalu gagal, menariknya dengan tiga teknik yang berbeda. Ia menggunakan ancang-ancang beberapa meter dengan berhenti di perempat final Euro 2020 melawan Spanyol, lalu gaya yang lebih pendek tanpa berhenti di perempat final Euro 2024 melawan Inggris, hingga yang terbaru ancang-ancang pendek dengan jeda di babak 16 besar Piala Dunia ini melawan Kolombia. Ketiganya berakhir dengan hasil yang sama: gagal.

"Di Piala Dunia ini, kita melihat banyak pemain menggunakan teknik ini tanpa menjadi spesialis penalti," ungkap Ben Lyttleton, penulis buku Twelve Yards yang membahas topik tersebut. Menurut Ben Lyttleton, pemain seperti Mario Balotelli, Bruno Fernandes, atau Gaizka Mendieta mempraktikkannya dengan sangat gemilang karena mereka pada dasarnya adalah penendang luar biasa yang melatih aspek teknis tembakan secara mendalam. Nama mantan pemain Basque yang bersinar di era 2000-an itu mengingatkan kita bahwa taktik ini bukanlah barang baru. "Ingatan pertama saya dalam pertandingan adalah Eden Hazard pada 2014, tetapi pemain seperti Nicolas Anelka di Chelsea antara 2008 dan 2011 sudah melakukannya saat latihan," kenang Christophe Lollichon.

Ben Lyttleton menyetujui hal tersebut. "Ketika saya menulis buku pada 2014, teknik ini sudah ada dan saya menyebutnya metode yang bergantung pada kiper," lanjutnya. Menurutnya, Neymar mempopulerkan gaya ini di Santos hingga membuat FIFA harus mengubah regulasi. Teknik yang dikenal dengan nama "paradinha" di Brasil ini mendesak IFAB selaku badan yang mengatur regulasi sepak bola untuk mempertegas Aturan 14, yang menyatakan penendang boleh "menghentikan ancang-ancang" dengan syarat jeda tersebut tidak dilakukan pada langkah kaki terakhir sebelum menendang. Neymar, yang kembali mencetak gol dengan cara ini saat melawan Norwegia di babak 16 besar (1-2), sebenarnya tidak menemukan hal baru. Penelusuran digital menunjukkan bahwa sang Raja Pelé sudah menjadi penganut setia teknik paradinha ini sejak awal tahun 1960-an, alias 60 tahun mendahului tren modern saat ini.

// TOPICS
#piala_dunia_2026 #kylian_mbappe #taktik_sepak_bola #prancis #maroko #penalti #neymar #statistik_bola
Jurnalis Olahraga Senior - Sepak Bola & Analisis Taktik

Ajiman Prasetyo adalah jurnalis olahraga ternama dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia sepak bola. Mantan koresponden di Jakarta, London, dan Madrid, ia telah meliput berbagai ajang olahraga terbesar: Piala Dunia, Piala Eropa, Liga Champions, dan liga-liga nasional. Analisis taktik dan laporan lapangannya dihargai karena kedalaman dan ketepatannya. Bergairah tentang sepak bola Eropa dan Amerika Selatan, ia menghadirkan pandangan unik dan mendalam tentang berita olahraga.