Laju impresif Tim Nasional Norwegia masih belum terbendung di pentas Piala Dunia 2026. Berdasarkan laporan pantauan redaksi dari jalannya turnamen, tim berjuluk "Opperviking" tersebut sukses mengejutkan publik sepak bola dunia dengan menyingkirkan tim bertabur bintang, Brasil. Bomber andalan mereka, Erling Haaland, kembali menjadi aktor utama di balik kesuksesan sensasional perwakilan Eropa Utara ini.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dalam pertandingan sengit tersebut, lini pertahanan Norwegia tampil begitu disiplin didukung performa gemilang sang penjaga gawang yang berulang kali mementahkan peluang emas Brasil. Tidak hanya kokoh di belakang, Norwegia juga sangat mematikan di depan berkat ketajaman Erling Haaland. Penyerang asal Norwegia tersebut sukses menyarangkan dua gol sekaligus memastikan langkah negaranya ke babak berikutnya, yang juga menambah pundi-pundi golnya menjadi tujuh dalam debutnya di Piala Dunia.
Menurut catatan statistik kompetisi, torehan tujuh gol Haaland di fase awal debut Piala Dunia ini mendekati rekor legendaris milik penyerang legendaris Jerman, Gerd Mueller, yang dicetak pada edisi 1970 silam. Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa persaingan untuk memperebutkan gelar sepatu emas atau pencetak gol terbanyak dalam turnamen edisi kali ini dipastikan akan berjalan semakin sengit dan legendaris.
Di sisi lain, kekalahan ini menghadirkan duka mendalam bagi megabintang Brasil, Neymar. Meski sempat memperkecil ketertinggalan melalui eksekusi penalti, Neymar gagal menyelamatkan "Selecao" dari jurang eliminasi. Pascapertandingan, sang penyerang tidak dapat membendung air matanya dan secara resmi mengumumkan pensiun dari panggung internasional. Keputusan ini memastikan bahwa Neymar menyudahi kariernya tanpa pernah mencicipi trofi juara Piala Dunia bersama Brasil.
Sementara itu, sejarah kelam tercipta di Stadion Azteca yang selama ini dikenal sebagai benteng pertahanan yang mustahil ditaklukkan oleh tim tamu. Rekor tak terkalahkan Meksiko di stadion mitis tersebut akhirnya runtuh di tangan Inggris. Laga sengit yang berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan "Three Lions" ini menjadi kekalahan ketiga bagi Meksiko dari total 90 pertandingan yang pernah mereka lakoni di stadion kebanggaan tersebut sepanjang sejarah.
Bagi Inggris, hasil positif ini menjadi ajang balas demam yang manis atas memori kelam 40 tahun silam, ketika mereka disingkirkan oleh gol kontroversial "Tangan Tuhan" Diego Maradona pada Piala Dunia 1986. Dengan hasil minor ini, Meksiko menyusul sebagai negara tuan rumah kedua yang harus angkat koper lebih awal dari turnamen, setelah sebelumnya salah satu tuan rumah lainnya juga tersingkir.
Kini, perhatian pencinta sepak bola dunia tertuju pada laga krusial antara Amerika Serikat melawan Belgia. Suasana menjelang pertandingan kian memanas akibat keputusan FIFA yang membatalkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Keputusan kontroversial ini memicu perdebatan sengit di kalangan pelatih dan pemain dari kedua belah pihak.
Menurut pernyataan resmi pelatih Belgia, Rudi Garcia, dalam sesi konferensi pers, dirinya mengecam keputusan tersebut dan menyindir FIFA secara sarkas. "Hal ini terlihat seperti lelucon April Mop dari pihak FIFA," ketus Garcia. Nada protes serupa juga dilontarkan oleh penjaga gawang utama Belgia, Thibaut Courtois, yang menilai pembatalan sanksi tersebut sebagai sebuah preseden buruk yang berbahaya bagi regulasi sepak bola internasional ke depan.
Dari pantauan redaksi, situasi sebaliknya terjadi di kubu Amerika Serikat yang menyambut keputusan tersebut dengan penuh kebahagiaan. Pelatih Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, menegaskan bahwa keadilan akhirnya ditegakkan lantaran menganggap kartu merah yang diterima Balogun saat melawan Bosnia dan Herzegovina adalah keputusan yang keliru. Polemik ini kian menarik perhatian publik setelah adanya kabar mengenai intervensi komunikasi dari Donald Trump yang memicu dinamika besar menjelang laga esok hari.