Tatapan mata yang fokus dan menghipnotis, pandangan ke arah langit, serta lidah yang membasahi bibir menjadi momen ikonik yang tak terlupakan. Di lingkaran tengah lapangan, Fabio Cannavaro, Daniele De Rossi, dan Andrea Pirlo menghentikan waktu dalam sebuah pelukan. Fabio Grosso saat itu berdiri hanya berjarak sebelas meter dari keabadian sejarah sepak bola. Momen tersebut merangkum detik-detik sebelum kebahagiaan luar biasa itu pecah.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan wawancara terbarunya di Vivo Azzurro TV menjelang peringatan 20 tahun gelar juara dunia keempat Italia yang jatuh pada 9 Juli mendatang, Grosso mengungkapkan besarnya emosi yang dirasakan kala itu. "Kami mencapai puncak emosi tertinggi yang bisa disentuh dalam dunia olahraga. Sebagai seorang anak, sulit bahkan hanya untuk memimpikan apa yang telah kami lakukan. Tahun-tahun berlalu, tetapi sensasi itu tetap ada," ujar Grosso.
Dua puluh tahun berlalu, pahlawan tak terduga ini nyatanya memiliki jalur karier yang tidak biasa. Di tengah skuad bertabur bintang sekelas Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Andrea Pirlo, Francesco Totti, dan Alessandro Del Piero, Grosso justru keluar sebagai aktor protagonis. Menurut catatan performanya, ia sangat krusial di babak 16 besar saat memenangkan penalti melawan Australia, serta mencetak gol penentu di babak perpanjangan waktu melawan Jerman pada laga semifinal.
Terkait penalti penentu melawan Prancis di partai final, Grosso membeberkan dinamika di ruang ganti. "Saya memang ingin mengambil penalti itu. Del Piero sebenarnya ingin menendang sebagai eksekutor kelima, tetapi pelatih yang menentukan urutan penendang," kenang Grosso. Ia menambahkan bahwa perjalanannya menuju titik putih di Olympiastadion Berlin tidak terjadi dalam hitungan detik, melainkan hasil kerja keras bertahun-tahun melewati berbagai rintangan dari kasta bawah sepak bola Italia.
Grosso memulai kariernya dari kompetisi amatir Eccellenza bersama Renato Curi, lalu naik ke Chieti di Serie C1. Kariernya berubah total saat membela Perugia di bawah asuhan Serse Cosmi, yang menggeser posisinya dari striker menjadi bek kiri. Posisi baru inilah yang membuka jalan baginya ke Tim Nasional Italia pada tahun 2003 di bawah asuhan Giovanni Trapattoni, sebelum akhirnya menjadi pilar utama di era Marcello Lippi.
Dari pantauan redaksi, kualitas Grosso dalam membaca permainan kini sukses membawanya menjadi salah satu pelatih Italia yang diperhitungkan. Setelah musim yang apik bersama Sassuolo, ia baru saja ditunjuk untuk menukari Fiorentina. "Saya adalah pelatih yang mencoba melakukan hal-hal yang saya yakini dengan cara terbaik. Saya ingin sepak bola yang mengandalkan semangat, energi, keberanian, dan kualitas," tutur pelatih baru Fiorentina tersebut.
Tim redaksi mengamati bahwa Grosso tidak pernah lupa memberikan kredit khusus kepada sang mentor, Marcello Lippi. Menurutnya, peran sang pelatih sangat masif dalam menyatukan tim hingga menjadi juara dunia. "Bagi sang pelatih, kata-kata saja mungkin tidak akan pernah cukup. Dia memberikan begitu banyak kontribusi untuk mencapai apa yang kami raih, dan kami akan selamanya berterima kasih kepadanya," pungkas Grosso.